INFINITNEWS.ID - Ledakan terdengar di Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (19/9). Suara ledakan muncul setelah otoritas Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara di ibu kota.
Warga Riyadh menerima pesan peringatan yang menyebut wilayah tersebut berada dalam ancaman udara. Setelah itu, suara ledakan terdengar di sejumlah wilayah ibu kota. Peringatan kemudian dinyatakan berakhir oleh otoritas pertahanan sipil Saudi.
Baca Juga: John Herdman Umumkan 23 Pemain Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026, Jay Idzes Absen
Peristiwa ini terjadi ketika serangan kelompok Houthi dari Yaman terhadap Arab Saudi meningkat. Houthi merupakan kelompok yang didukung Iran dan saat ini menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk di Yaman.
Pada Jumat (18/9), Houthi mengklaim Arab Saudi telah melakukan 26 serangan udara ke wilayah yang mereka kuasai dalam 24 jam. Mereka juga menyebut sekitar 300 serangan telah dilakukan Arab Saudi dalam sepekan terakhir.
Klaim Houthi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Namun, Arab Saudi memang terlibat langsung dalam konflik Yaman dan telah melakukan serangan terhadap posisi Houthi.
Perang Yaman pecah pada 2014 setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa. Setahun kemudian, Arab Saudi memimpin koalisi untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Konflik sempat mereda sejak 2022. Namun, pertempuran kembali meningkat pada Juli 2026 seiring meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Kasus KSO Migas Kota Bekasi Rugikan Negara Rp 2 Triliun, Kejagung Telusuri Afiliasi Riza Chalid
Situasi semakin rumit setelah Houthi memperluas kendali di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman hingga Bab el-Mandab. Selat ini merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Houthi juga menyatakan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Kelompok itu mengatakan kapal-kapal non-Saudi tetap dapat melintas di jalur tersebut.
Perkembangan ini menjadi perhatian karena Bab el-Mandab merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan dan energi global. Reuters melaporkan lalu lintas kapal di selat tersebut tetap berlangsung, meski ketegangan meningkat.
Sementara itu, dampak kemanusiaan konflik terus membesar. IOM menyebut sedikitnya 112.000 warga Yaman mengungsi di dalam negeri dan hampir 3.000 lainnya melarikan diri melalui laut menuju Djibouti.
Kondisi tersebut menambah beban Yaman yang selama bertahun-tahun menghadapi krisis kemanusiaan akibat perang.