INFINITNEWS.ID - Perang AI ternyata bukan cuma soal siapa yang paling pintar. Kini, pertanyaannya berubah: seberapa cepat AI seharusnya dikembangkan sebelum manusia kehilangan kendali?
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen ikut mendorong rem dalam perlombaan pengembangan kecerdasan buatan (AI). Dalam pidato State of the European Union di Strasbourg, Rabu (16/9), ia menyatakan dukungan terhadap upaya memperlambat pengembangan model AI paling canggih atau frontier models.
Baca Juga: Wali Kota Tri Adhianto Diduga Manipulasi Anggaran, DPRD Kota Bekasi Didesak Bentuk Pansus
Yang menarik, dorongan ini bukan datang dari regulator saja. Sejumlah pemimpin laboratorium AI terkemuka di Amerika Serikat juga mulai memperingatkan bahwa perlombaan meningkatkan kemampuan model tidak bisa terus berjalan tanpa batas.
CEO Anthropic Dario Amodei sebelumnya menyerukan perlambatan, sementara seruan tersebut mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk dari xAI.
Von der Leyen menyoroti salah satu skenario yang terdengar seperti film fiksi ilmiah, tetapi kini menjadi perhatian serius: AI yang mampu memperbaiki atau mengembangkan dirinya sendiri secara berulang.
Menurutnya, semakin canggih model AI, semakin besar pula risiko teknologi tersebut digunakan untuk melakukan peretasan pada skala yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Buat Gen Z dan Milenial, isu ini sebenarnya jauh lebih dekat daripada yang terlihat. AI sudah masuk ke dunia kerja, pendidikan, bisnis, desain, coding, pemasaran hingga industri kreatif.
Baca Juga: Pramono Umumkan Tarif Khusus LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai, Segini Besarannya
Semakin cepat kemampuan AI berkembang, semakin cepat pula pekerjaan berubah. Skill yang hari ini dianggap unggul bisa saja menjadi standar biasa beberapa tahun lagi.
Di sisi lain, memperlambat AI juga bukan perkara sederhana. Jika satu laboratorium mengurangi kecepatan sementara kompetitor terus melaju, siapa yang rela tertinggal? Di sinilah muncul babak baru “AI lab vs AI lab”: bukan sekadar adu model paling pintar, tetapi adu keberanian menentukan batas.
Uni Eropa kini berencana mengajak laboratorium AI terkemuka berdiskusi mengenai cara memperlambat perkembangan frontier AI secara lebih aman, termasuk evaluasi model, verifikasi, sistem peringatan dini, dan keamanan AI.
Pertanyaannya, apakah kita benar-benar perlu AI yang berkembang secepat mungkin, atau justru butuh AI yang berkembang dengan lebih terkendali? Menurut kamu, teknologi harus terus gas atau sudah waktunya sedikit menginjak rem? Tulis pendapatmu di kolom komentar.