INFINITNEWS.ID - Perang kecerdasan buatan atau AI kini bukan sekadar perlombaan menciptakan model yang lebih pintar. Persaingan Amerika Serikat dan China mulai masuk ke wilayah yang lebih strategis: siapa yang menentukan aturan, seberapa jauh AI boleh dikembangkan, dan bagaimana manusia mengendalikan teknologi yang kemampuannya terus meningkat.
Laporan Associated Press (AP) pada 17 September 2026 menyebut tata kelola dan keamanan AI diperkirakan menjadi salah satu agenda dalam pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington, D.C., pada 24 September 2026.
Baca Juga: Gerindra Setuju Parliamentary Threshold 5 Persen di Revisi UU Pemilu
Masuknya isu AI ke meja pertemuan tingkat tinggi menunjukkan bahwa teknologi ini tidak lagi sekadar urusan industri, tetapi juga berkaitan dengan kepentingan ekonomi, keamanan, dan stabilitas global.
Persoalannya, AS dan China memiliki kepentingan yang tidak selalu sejalan. Amerika Serikat berusaha mempertahankan keunggulan dalam pengembangan AI, termasuk melalui penguasaan chip canggih, pusat data, dan infrastruktur komputasi.
China, di sisi lain, terus mendorong pengembangan serta adopsi AI dengan biaya yang semakin efisien. Semakin cepat kemampuan AI berkembang, semakin besar pula nilai strategis teknologi tersebut.
Di sinilah risiko pengembangan AI tanpa pengamanan yang memadai menjadi serius. AI dapat memperbesar kemampuan manusia, tetapi pada saat yang sama dapat memperbesar skala kesalahan dan penyalahgunaan.
Baca Juga: Serda Ahmad Tewas Dianiaya Senior, DPR Minta Tradisi Kekerasan TNI Dihapus
Sistem AI yang digunakan untuk menghasilkan disinformasi, memalsukan suara dan video, menemukan celah keamanan digital, atau mengotomatisasi serangan dapat bekerja jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memeriksa satu per satu hasilnya.
Dalam skenario terburuk, persoalannya bukan lagi sekadar pekerjaan yang tergantikan atau informasi palsu yang beredar. Bayangkan sistem AI digunakan untuk mengoordinasikan serangan siber terhadap layanan penting secara otomatis, memanipulasi informasi dalam skala jutaan orang, atau membantu mengambil keputusan berisiko tinggi tanpa pengawasan manusia yang memadai.
Gangguan terhadap jaringan listrik, layanan keuangan, komunikasi, layanan kesehatan, atau infrastruktur pemerintahan dapat menimbulkan efek berantai yang melampaui batas negara.
Risiko lainnya adalah munculnya ketergantungan teknologi yang semakin dalam. Jika kemampuan AI terkonsentrasi pada segelintir perusahaan atau negara, pihak lain dapat bergantung pada teknologi, chip, model, dan infrastruktur yang tidak sepenuhnya mereka kendalikan.
Pada titik tertentu, kesenjangan AI bukan hanya menjadi persoalan bisnis, tetapi juga dapat memengaruhi daya saing ekonomi, keamanan nasional, bahkan keseimbangan kekuatan global.