lifestyle

Nelamayu dan Upaya Menghidupkan Kembali Tradisi Badabida lewat Ketan Hitam Sigi

Kamis, 10 September 2026 | 16:10 WIB
Nelamayu Tradisional (Contentro)

INFINITNEWS.ID - Persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan dalam skala besar. Hilangnya pasar bagi tanaman pangan lokal juga dapat membuat petani kehilangan alasan untuk menanamnya. Di sisi lain, proses pengolahan bahan pangan menghasilkan sisa yang akan terbuang jika tidak ditemukan kegunaan baru.

Situasi itu mulai dihadapi petani ketan hitam di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Pasar yang tidak pasti membuat minat menanam komoditas ini menurun. Padahal, bagi masyarakat Kaili, ketan hitam bukan hanya bahan pangan. Bahan ini juga digunakan dalam badabida, lulur tradisional untuk merawat tubuh calon pengantin.

Di tengah kondisi tersebut, Nelam Ayu Kusuma membangun permintaan baru bagi ketan hitam melalui Nelamayu Tradisional, usaha perawatan tubuh berbahan alami yang dirintisnya sejak 2018. Ketan hitam dari petani di wilayah Dolo Barat diolah menjadi body scrub. Dedak dan abu yang tersisa dari proses produksi tidak dibuang, tetapi dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak dan abu gosok.

Baca Juga: FTA Dukung RUU Dwikewarganegaraan, tapi Wanti-wanti Jangan Jadi “Hadiah Politik”

Skalanya memang belum besar. Namun, bagi petani yang menghadapi permintaan tidak menentu, keberadaan pembeli lokal memberi kepastian bahwa hasil tanam mereka masih memiliki pasar.

Model usaha ini memperlihatkan bagian yang sering luput ketika sebuah produk disebut ramah lingkungan: dari mana bahan bakunya berasal, siapa yang memperoleh manfaat dari penggunaannya, dan ke mana sisa produksi berakhir.

Badabida berasal dari tradisi nombungu, rangkaian perawatan yang dijalani calon pengantin perempuan Kaili. Dalam tradisi ini, tubuh dan wajah calon pengantin dirawat menggunakan bahan-bahan alami, termasuk lulur atau masker dari ketan hitam.

“Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili,” ujar Nelam.

Awalnya, badabida dibuat sebagai bedak atau masker sederhana. Nelam kemudian mengembangkannya menjadi body scrub agar lebih praktis digunakan oleh konsumen saat ini.

Selain badabida, Nelam memproduksi bada kumba. Pengetahuan pembuatannya diwariskan oleh nenek Nelam, yang pada masa pendudukan Jepang dikenal sebagai perawat herbal di kampungnya.

Ketika obat-obatan sulit diperoleh, sang nenek meracik bedak dingin dari beras, daun basakaling atau kodombuku, kunyit kayu, kencur, dan rempah lainnya. Pengetahuan tersebut bertahan karena terus dipraktikkan dan diwariskan di dalam keluarga.

Baca Juga: Direktur P3S Jerry Massie Sentil Jokowi yang Kritik Prabowo: Lupa Borok 10 Tahun Berkuasa

Melalui Nelamayu Tradisional, pengetahuan itu kini ikut menjaga permintaan terhadap bahan pangan dan rempah lokal. Tradisi tidak hanya disimpan sebagai cerita masa lalu, tetapi digunakan untuk menciptakan kegiatan ekonomi yang masih terhubung dengan petani dan sumber daya setempat.

Proses pembuatan badabida dan bada kumba menghasilkan dedak dari penggilingan beras serta abu dari proses sangrai. Nelam berusaha agar kedua hasil samping tersebut tidak langsung dibuang.

Halaman:

Tags

Terkini

Andre Taulany dan Amanda Rigby Resmi Menikah

Minggu, 20 September 2026 | 14:29 WIB

Menata Ruang yang Kerap Terlupakan di Rumah

Jumat, 18 September 2026 | 17:50 WIB

Mau Buka Usaha tapi Modal Tipis? Coba 7 Ide Kreatif Ini

Kamis, 10 September 2026 | 17:34 WIB