Pendekatan ini didukung Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), asosiasi pemerintah kabupaten yang mendorong kemandirian daerah melalui model ekonomi restoratif. Dalam model ini, keberlanjutan alam dan kesejahteraan masyarakat ditempatkan sebagai dasar pembangunan, bukan sebagai dua tujuan yang saling bertentangan.
Di Sigi, penerapannya dapat dilihat dari hubungan antara sebuah usaha perawatan tubuh dan petani ketan hitam. Hasil panen memperoleh pasar, tradisi lokal tetap digunakan, dan sisa produksi mendapat fungsi baru
Dampaknya masih kecil jika hanya dilihat dari volume produksi. Namun, praktik ini menunjukkan bahwa ekonomi yang lebih ramah lingkungan tidak selalu harus dimulai dari proyek besar.
Ia dapat dimulai dari keputusan sederhana di sebuah dapur produksi: membeli bahan dari petani sekitar, menggunakan sumber daya secukupnya, dan tidak langsung membuang apa yang masih dapat dimanfaatkan.
Artikel Terkait
Motivasi dari Prabowo Perkuat Tekad Atlet Lompat Galah untuk Cetak Rekor Nasional dan Emas di Asian Games 2026
Abah Setu Akan Klarifikasi ke Polres Metro Bekasi soal Video yang Diduga Hina Nabi Muhammad SAW
Siapkan Penerbitan Obligasi Rp 500 Miliar pada Kuartal IV 2026, BRI Finance Perkuat Diversifikasi Pendanaan
Presiden Prabowo: Demokrasi Boleh Beda Warna, tapi Jangan Sampai Putus Persahabatan
3 ASN Ditembak Mati KKB di Jayawijaya Saat Antar Bantuan, Dave Laksono: Keji!