Dedak disalurkan kembali kepada petani atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Abu sangrai digunakan sebagai abu gosok rumah tangga dan sebagian dijual dengan harga Rp5.000 per kantong.
Praktik ini sederhana, tetapi penting. Produk utama menghasilkan pendapatan, sedangkan hasil sampingnya masuk kembali ke penggunaan lain. Dengan demikian, lebih sedikit bahan dari proses produksi yang terbuang tanpa manfaat.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari yang diikuti Nelamayu Tradisional pada 2023.
“Pendampingan kami fokus pada hilirisasi berbasis alam. Kami ingin memastikan produk-produk seperti Nelamayu Tradisional bisa tumbuh secara ekonomi tanpa mengorbankan nilai budaya dan lingkungan,” kata Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi Lestari.
Usaha berbasis sumber daya alam tidak cukup hanya menjual produk berlabel alami. Pelaku usaha juga perlu memahami asal bahan baku, menjaga penggunaannya agar tidak berlebihan, melibatkan masyarakat lokal, dan memperhitungkan sisa yang dihasilkan selama produksi.
“Ketika lingkungan dijaga, sumber daya alam dimanfaatkan secara bijak, dan masyarakat lokal terlibat langsung, maka pemulihan ekonomi terjadi secara alami. Pendapatan meningkat, budaya tetap hidup, dan alam tidak dieksploitasi,” ujarnya.
Selama enam bulan mengikuti program inkubasi, Nelam mendapat pendampingan dalam penguatan kelembagaan, perizinan, pengembangan produk, pemasaran, dan perluasan akses pasar.
Melalui kegiatan Business and Partnership Matching, Nelamayu Tradisional dipertemukan dengan 20 calon mitra.
Produk Nelamayu Tradisional kini dipasarkan secara daring serta melalui reseller dan mitra lokal. Jangkauan pemasarannya mencakup Sigi, Palu, Parigi, Poso, hingga Morowali. Produk tersebut juga mulai diperkenalkan sebagai amenities di homestay dan penginapan lokal.
Pertumbuhan pasar ini penting bukan hanya bagi usaha Nelam. Semakin luas penggunaan produknya, semakin besar pula peluang untuk menyerap bahan baku dari petani lokal.
Namun, pertumbuhan itu tetap perlu berjalan seiring dengan ketersediaan bahan dan kapasitas petani. Bagi Nelam, tujuan jangka panjangnya bukan sekadar memperbesar produksi, tetapi membuat produknya dikenal melalui hubungan antara tradisi, perempuan, kesehatan, dan alam.
“Saya ingin produk ini tidak hanya dikenal karena hasilnya di kulit, tapi juga karena ceritanya. Tentang perempuan, tradisi, kesehatan, dan alam yang saling terhubung,” katanya.
Nelamayu Tradisional merupakan satu dari 74 pelaku usaha dan kelembagaan lokal yang telah mengikuti program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari. Pesertanya terdiri dari 64 tenant program Gampiri Inkubasi Usaha Lestari dan 10 tenant Koperasi Growth.
Mereka berasal dari UMKM lokal, koperasi, kelompok sadar wisata, hingga Kelompok Usaha Perhutanan Sosial. Komoditas yang dikembangkan antara lain kopi, vanili, tanaman atsiri, serta produk berbahan alam lainnya.
Program tersebut berangkat dari gagasan bahwa pembangunan ekonomi daerah tidak harus memisahkan pertumbuhan usaha dari perlindungan lingkungan. Potensi alam dapat memberikan pendapatan bagi masyarakat apabila dikelola secara hati-hati, diproses di daerah, dan memberikan manfaat kepada pelaku lokal.