INFINITNEWS.ID - Kehadiran Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam U20 Mayoral Plenary di Civic Hall, New York, Amerika Serikat, dinilai memiliki dimensi lebih luas daripada sekadar kunjungan kerja antarkota.
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah mengatakan forum tersebut menunjukkan semakin pentingnya peran kota besar dalam membangun jejaring kerja sama internasional. Menurut dia, persoalan perkotaan saat ini banyak yang melampaui batas administrasi negara.
"Jakarta sedang memasuki ruang diplomasi yang berbeda. Yang dibicarakan bukan lagi hubungan antarnegara dalam pengertian klasik, tetapi bagaimana kota besar bertukar pengalaman, teknologi, pengetahuan, investasi dan kebijakan untuk menghadapi masalah yang sama," kata Amir, Senin (21/9).
Baca Juga: Presiden Prabowo Minta Sekolah-PTN Negeri Gratis, Rektor Paramadina Dorong Wajib Belajar 15 Tahun
Pramono menghadiri U20 Mayors Summit 2026 pada 19-21 September atas undangan Wali Kota New York Zohran Kwame Mamdani. Selain mengikuti forum, Pramono bertemu Mamdani untuk membahas peluang kerja sama Jakarta dan New York.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut sejumlah isu yang dibahas mencakup transportasi publik dan udara bersih, pengelolaan air dan ketahanan pesisir, sampah, serta keterjangkauan harga pangan.
Pemprov DKI berharap pembahasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi kerja sama konkret yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Amir menilai New York memiliki posisi penting dalam jejaring ekonomi dan internasional global. Karena itu, menurut dia, keterlibatan Jakarta dalam forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan antarkota.
Secara kelembagaan, U20 merupakan wadah bagi para pemimpin kota besar untuk menyusun perspektif dan rekomendasi kebijakan perkotaan yang kemudian dapat menjadi masukan dalam agenda G20. Pemprov DKI menyebut Jakarta telah lama menjadi bagian dari U20 dan aktif dalam kerja sama antarkota.
"Jadi meja yang didatangi Pramono bukan meja kecil. Ada hubungan antara agenda kota dengan agenda ekonomi dan politik global," ujar Amir.
Menurut dia, Jakarta menghadapi persoalan yang juga dialami kota metropolitan lain, seperti kemacetan, kualitas udara, transportasi publik, pengelolaan air, banjir, sampah, kebutuhan hunian, harga pangan, dan perubahan iklim.
Karena itu, Amir menilai kerja sama Jakarta-New York akan lebih bermakna jika menghasilkan pertukaran pengetahuan, teknologi, pengembangan sumber daya manusia, pembiayaan, atau model pelayanan publik yang dapat diterapkan di Jakarta.
Dalam forum U20, Pramono juga memaparkan pertumbuhan ekonomi Jakarta sebesar 5,52 persen pada kuartal II 2026 serta menawarkan 37 proyek pengembangan kota dengan potensi investasi sekitar 7 miliar dollar AS.