• Selasa, 22 September 2026

Kapal Komersial Diserang di Selat Hormuz, Ancaman Pasokan Energi Global Meningkat

Photo Author
Charles Poluan, infinitnews.id
- Senin, 14 September 2026 | 16:05 WIB
Blokade Selat Hormuz (Charles Poluan Jr)
Blokade Selat Hormuz (Charles Poluan Jr)

INFINITNEWS.ID - Sebuah kapal komersial diserang proyektil tak dikenal di Selat Hormuz pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari waktu setempat, 13 September 2026. Serangan tersebut memicu kebakaran dan evakuasi awak di tengah perang yang telah berlangsung tujuh bulan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, yang menjadikan salah satu jalur energi paling strategis di dunia itu sebagai titik rawan konflik.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) mengonfirmasi insiden tersebut secara terpisah dari serangan lain yang menghantam kapal kargo Iran di dekat Pulau Qeshm dan Hengam, yang menewaskan satu orang dan melukai sejumlah awak lainnya.

Baca Juga: Prabowo: BRICS Wadah Menyatukan Suara Negara Berkembang dan Membentuk Masa Depan

Gubernur Qeshm, Hossein Amir Teymouri, membenarkan kapal komersial berawak 10 orang itu dihantam proyektil tak dikenal sekitar pukul 05.00 waktu setempat di perairan lepas kedua pulau tersebut.

Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, menuding "musuh teroris" berada di balik serangan, tanpa menyebut pihak spesifik maupun jenis proyektil yang digunakan. Hingga berita ini diturunkan, militer Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi.

"Identitas penyerang dalam dua insiden tersebut juga belum dapat dipastikan secara independen," tulis IRNA.

Gangguan pelayaran itu tidak berhenti pada satu kapal. Kementerian Luar Negeri India mengonfirmasi kapal MT El Gaia, berbendera Panama dengan 14 warga negara India di antara awaknya, turut diserang di perairan yang sama pada hari itu.

Sebanyak 13 warga India dilaporkan telah diselamatkan, sementara satu lainnya masih dalam pencarian. Rangkaian insiden tersebut menunjukkan bahwa risiko terhadap kapal komersial di sekitar Hormuz semakin meluas.

Baca Juga: Achmad Hidayat Dipecat PDIP Usai Bertamu ke Rumah Jokowi

Serangan itu terjadi ketika akses pelayaran melalui Selat Hormuz telah merosot tajam akibat konflik dan pembatasan yang diberlakukan di kawasan tersebut. Jalur sempit yang sebelum perang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari itu kini mengalami penurunan lalu lintas kapal secara drastis dibandingkan kondisi sebelum konflik.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh perusahaan pelayaran, tetapi juga menjadi perhatian pasar energi karena Hormuz merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak dan gas dunia.

Ketegangan tersebut berlangsung menjelang pertemuan Iran dengan negara-negara Teluk di Muskat, Oman, yang sedianya membahas pengaturan pelayaran di Selat Hormuz. Namun, Oman kemudian menunda pertemuan itu dengan alasan perlunya membangun konsensus di antara negara-negara yang terlibat. Bahrain sebelumnya telah menyatakan tidak akan menghadiri pertemuan tersebut.

Gangguan di Hormuz menjadi semakin serius karena jalur alternatif juga menghadapi risiko keamanan. Di Yaman, kelompok Houthi mengklaim melakukan serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi, sementara kelompok tersebut juga telah menguasai Pulau Perim di Selat Bab al-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Kondisi tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan dua titik penting dalam jaringan perdagangan maritim kawasan dan potensi dampaknya terhadap harga minyak serta gas alam global.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Charles Poluan

Tags

Artikel Terkait

Terkini