INFINITNEWS.ID - Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dr. Daryono mengungkap sejumlah dugaan penyebab hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal di perairan Selat Sunda. Menurutnya, kondisi laut dan aktivitas vulkanik Anak Krakatau bisa menjadi faktor yang membahayakan.
Daryono mengatakan keindahan lontaran lava dan kepulan asap Anak Krakatau tidak terlepas dari potensi bahaya bagi orang yang berada terlalu dekat dengan kawasan tersebut.
“Ini menjadi pengingat memilukan bahwa dedikasi tinggi dalam mengabadikan fenomena alam kerap berbatasan langsung dengan garis tipis keselamatan jiwa,” kata Daryono, Senin (14/9).
Baca Juga: Pendaftaran SMA Pradita Dirgantara 2027/2028 Dibuka, Ini Syarat, Biaya dan Jadwal Seleksinya
Berdasarkan analisis kondisi lapangan, Daryono menyebut hilangnya perahu jurnalis itu kemungkinan dipengaruhi kombinasi dinamika laut dan aktivitas vulkanik.
“Analisis kondisi lapangan menunjukkan bahwa hilangnya perahu jurnalis ini hampir pasti dipicu oleh kombinasi mematikan antara dinamika oseanografi Selat Sunda dan aktivitas vulkanis yang tak terprediksi,” ujarnya.
Ia menjelaskan pertemuan arus deras dari Laut Jawa dan Samudra Hindia dapat memunculkan gelombang konvergen secara tiba-tiba. Kondisi tersebut berpotensi membuat perahu kecil terbalik.
Risiko lainnya adalah paparan gas vulkanik jika kapal terlalu dekat dengan radius bahaya Anak Krakatau. Daryono menyebut karbon dioksida dan sulfur dioksida sebagai gas yang perlu diwaspadai.
Baca Juga: Habiburokhman Desak Polisi Bongkar Dalang di Balik Eksploitasi Anak Saat Demo
Menurut dia, paparan gas tersebut dalam kondisi tertentu dapat membuat awak kapal kehilangan kesadaran sehingga tidak sempat mengirimkan sinyal darurat.
Daryono juga menduga kecelakaan dapat terjadi secara tiba-tiba akibat kemudi patah atau mesin kapal mati. Setelah kehilangan kendali, kapal bisa dihantam gelombang dan korban terbawa arus menuju perairan luar Samudra Hindia.
Skenario lain yang juga mungkin terjadi adalah awak kapal lebih dahulu lumpuh akibat paparan gas vulkanik, sebelum perahu akhirnya karam.
Daryono menilai kejadian ini menjadi peringatan pentingnya penerapan zona bahaya pelayaran atau exclusion zone.
Menurut dia, kegiatan peliputan di wilayah berisiko tinggi harus disertai standar keselamatan dan navigasi yang ketat.
Artikel Terkait
5 Tips Membayar Iuran BPJS Kesehatan agar Status Kepesertaan Tetap Aktif
Persija Tekuk Persib 2-1, Pramono Apresiasi Sportivitas dan Ketertiban Suporter
Jakarta Siap Jadi Tuan Rumah FIFA ASEAN Cup 2026, Pramono Tekankan Sport Tourism
Pusaka Padjajaran Gelar Maulid Nabi Muhammad SAW, Dorong Generasi Muda Berkarakter
5 WNA Ditangkap Imigrasi Tangerang, Diduga Palsukan Dokumen Izin Tinggal dan Terlibat Jaringan Judi Online