INFINITNEWS.ID - Gempa bumi yang mengguncang wilayah sekitar Laut Jawa pada Sabtu (12/9) pukul 04.23 WIB disebut sebagai gempa dalam atau deep focus earthquake.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono Perwira Sakti mengatakan, gempa itu bersumber dari kedalaman sekitar 358 kilometer.
Baca Juga: Perjalanan Commuter Line Kembali Normal Pascagempa M 5,9
Daryono menjelaskan, gempa tersebut bukan berasal dari aktivitas sesar aktif dangkal. Gempa terjadi akibat patahnya batuan di dalam slab Lempeng Samudra Australia yang telah menunjam jauh ke bawah Laut Jawa.
“Peristiwa ini dikategorikan sebagai gempa intra-slab,” ujar Daryono dalam keterangannya, Sabtu (12/9).
Menurut Daryono, gempa intra-slab merupakan gempa yang terjadi di dalam lempeng yang tersubduksi. Sumbernya berada di Zona Benioff, yaitu jalur lempeng samudra yang menunjam ke bawah lempeng lain.
Kedalaman sumber gempa membuat pola guncangannya berbeda dari gempa dangkal. Meski episenter berada di Laut Jawa sebelah utara Jakarta, getaran justru dapat terasa lebih awal dan lebih kuat di wilayah Jawa bagian selatan, termasuk Sukabumi.
Daryono menyebut gelombang gempa merambat lebih efisien melalui slab lempeng yang padat dan homogen. Energi kemudian bergerak ke arah selatan sebelum menyebar ke permukaan.
“Karena jalur perambatan energinya, guncangan tidak selalu paling kuat dirasakan di wilayah yang paling dekat dengan episenter,” katanya.
Baca Juga: 3 Pegawai Pemkab Jayawijaya Ditembak Mati KKB, Habiburokhman: Biadab!
Gempa dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer juga dapat menjangkau wilayah yang sangat luas. Dalam kasus ini, getaran disebut dapat dirasakan mulai dari Sumatra, Jawa bagian timur, hingga Kalimantan.
Namun, Daryono menegaskan, jangkauan guncangan yang luas tidak otomatis berarti gempa berpotensi merusak. Energi gempa melemah secara bertahap selama merambat dari kedalaman menuju permukaan.
Akibatnya, energi yang sampai ke permukaan telah banyak terdisipasi. Kondisi itu membuat potensi kerusakan struktural akibat gempa dalam relatif rendah.
Daryono juga menjelaskan karakteristik gempa susulan. Gempa dalam seperti ini dinilai jarang memicu gempa susulan karena pelepasan tegangan cenderung berlangsung secara total dalam satu peristiwa utama.