“Begitu seorang tokoh terlalu terang-terangan menunjukkan ambisinya sebagai kandidat cawapres, posisinya justru berisiko terkunci lebih awal,” tuturnya.
Karena itu, menurut Nasarudin, menjaga posisi tetap terbuka bukan berarti pasif, melainkan strategi untuk mempertahankan posisi tawar hingga momentum pencalonan semakin jelas.
Ia juga mengaitkan pola tersebut dengan teori elite settlement Michael Burton dan John Higley. Teori itu menggambarkan kecenderungan elite yang memiliki kepentingan sama untuk membangun konsensus informal terlebih dahulu ketika konfigurasi politik belum sepenuhnya terbentuk.