• Selasa, 22 September 2026

Peluang Partai Demokrat pada Pemilu 2029 dan Strategi AHY Naikkan Elektabilitas

Photo Author
Fadillah Azrah, infinitnews.id
- Kamis, 10 September 2026 | 22:04 WIB
Agus Harimurti Yudhoyono (Istimewa)
Agus Harimurti Yudhoyono (Istimewa)

INFINITNEWS.ID - Kalau melihat perjalanan Demokrat dari 2004 sampai 2024, partai ini sebenarnya punya satu ciri yang cukup jelas: mereka pernah sangat besar, lalu mengalami penurunan, tetapi tidak pernah benar-benar hilang dari peta politik nasional.

Pada Pemilu 2004, Demokrat memperoleh sekitar 8,46 juta suara dan berada di posisi kelima. Lima tahun kemudian, angkanya melonjak menjadi 21,70 juta suara sekaligus menempatkan Demokrat sebagai pemenang pemilu legislatif. Setelah itu, suara partai turun menjadi 12,73 juta pada 2014, 10,88 juta pada 2019, sebelum sedikit naik menjadi 11,28 juta pada 2024.

KPU sendiri menyediakan basis data hasil pemilu dan data partai secara terbuka melalui portal Satu Peta Data Pemilu.

Baca Juga: Pramono Targetkan Penataan Kabel Udara Jakarta Tuntas dalam 5 Tahun

Pertanyaannya sekarang: apakah Demokrat bisa kembali naik pada Pemilu 2029, atau justru bertahan sebagai partai papan tengah?

Dari partai penguasa menjadi partai yang harus membangun ulang

Lonjakan suara Demokrat pada 2009 sulit dilepaskan dari popularitas Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu, Demokrat bukan sekadar kendaraan politik, tetapi juga menjadi simbol pemerintahan SBY yang sedang berada di puncak popularitas.

Masalahnya, model tersebut tidak mudah diwariskan.

Setelah era SBY berakhir, Demokrat kehilangan sebagian daya tarik elektoralnya. Pada 2014 suara partai merosot hampir 9 juta suara dibandingkan lima tahun sebelumnya. Penurunan berlanjut pada 2019.

Pemilu 2024 memang memberikan sedikit ruang bernapas. Suara Demokrat naik sekitar 400 ribu dibandingkan 2019. Namun, kenaikan tersebut belum cukup mengubah posisi partai yang masih berada di peringkat ketujuh.

Artinya, Demokrat sudah berhasil menghentikan sebagian penurunan, tetapi belum menunjukkan bahwa mereka sudah kembali ke jalur pertumbuhan yang kuat.

AHY menjadi faktor paling penting

Di sinilah posisi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi penting.

AHY bukan SBY, tetapi memiliki keuntungan yang tidak dimiliki banyak ketua umum partai lain: nama keluarga Yudhoyono masih menjadi aset politik. Tantangannya adalah mengubah modal tersebut menjadi kekuatan elektoral yang lebih luas.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Fadillah Azrah

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Prabowo Jadikan Kekuasaan Seperti Mainan Pribadi

Jumat, 18 September 2026 | 11:35 WIB

Achmad Hidayat Dipecat PDIP Usai Bertamu ke Rumah Jokowi

Senin, 14 September 2026 | 12:31 WIB