INFINITNEWS.ID - Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sehat dan kredibel akan menjadi prioritasnya setelah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, prioritas tersebut sejalan dengan arahan yang diberikan Prabowo kepadanya.
Baca Juga: Prabowo Copot Purbaya Yudhi Sadewa, Suahasil Nazara Jadi Menteri Keuangan
Suahasil menjelaskan bahwa Prabowo memintanya untuk terus menjaga pengelolaan dan kredibilitas APBN mengingat keuangan negara adalah instrumen penting dalam menjalankan program-program prioritas pemerintah.
"Arahan khusus dari Bapak Presiden adalah untuk menjaga keuangan negara, artinya, menjaga kesehatan menjaga kredibilitas dari keuangan negara tersebut," ujar Suahasil usai Pelantikan di Istana Negara, Senin (14/9).
Untuk memperkuat pengelolaan tersebut, Suahasil mengatakan akan melanjutkan pengelolaan keuangan negara yang selama ini dijalankan Kementerian Keuangan, dengan menjadikan APBN sebagai motor pertumbuhan sekaligus stabilisator ekonomi domestik.
Selain itu, ia berkomitmen untuk mengomunikasikan APBN kepada masyarakat secara transparan guna meningkatkan kepercayaan publik.
Baca Juga: Profil Menkeu Suahasil Nazara, Ekonom UI yang Berkarier Panjang di Pemerintahan
Suahasil juga menegaskan komitmennya menjaga defisit APBN tetap berada di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sesuai amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan per akhir Juni 2026, realisasi defisit APBN mencapai Rp 196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB.
"Dan saya juga akan memastikan bahwa apa yang dilakukan melalui APBN mendukung program prioritas pemerintah," tutur dia.
Lebih lanjut, Suahasil menambahkan bahwa efisiensi belanja juga menjadi salah satu aspek yang terus diperhatikan pemerintah.
Menurutnya, efisiensi bukan semata-mata berarti mengurangi belanja negara. Lebih dari itu, efisiensi diarahkan untuk memastikan setiap anggaran yang dikeluarkan menghasilkan keluaran (output) yang optimal dan sesuai dengan perencanaan.
“Tentu kita selalu mencari belanja yang lebih efisien, tetapi menghasilkan output yang sesuai dengan apa yang sudah direncanakan,” ucapnya.
Artikel Terkait
Pembuatan Rekening Massal Dinilai Rawan Disalahgunakan untuk Judi Online
DKI Jakarta Mau Terbitkan Obligasi, Ekonom Ingatkan Jangan Sampai Gagal Bayar seperti Brasil
Penjualan Mobil Ritel Agustus 2026 Capai 83.422 Unit, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Kompetitif
KDM Dinilai Lebih Pentingkan Pencitraan Ketimbang Cari Solusi di Tengah Defisit APBD Jabar Rp 5,7 Triliun
Pendaftaran SMA Pradita Dirgantara 2027/2028 Dibuka, Ini Syarat, Biaya dan Jadwal Seleksinya